Sponsors

Senin, 29 Oktober 2012

Penyandang Cacat


A.    LATAR BELAKANG MASALAHSetiap orang dilahirkan berbeda. Tidak ada manusia yang benar-benar sama meskipun mereka kembar. Perbedaan tersebut dapat terjadi pada kondisi fisik dan non fisik. Merupakan hal wajar jika setiap orang berbeda dalam banyak hal seperti warna kulit, bentuk jasmani, minat, potensi atau kecerdasan. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari disamping individu yang secara fisik normal sering kita jumpai, ada pula individu yang memiliki fisik tidak normal,yang sering dikenal sebagai penyandang cacat. Masalah penyandang cacat bukan merupakan masalah yang kecil, terutama di negara seperti Indonesia. Karena permasalahan yang dihadapi meliputi segala aspek hidup dan kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Pemerintah melalui Departemen Sosial telah berupaya meningkatkan kesejahteraan social penyandang cacat, tetapi upaya peningkatan kesejahteraan social penyandang cacat masih dirasakan kurang memenuhi harapan semua pihak termasuk penyandang cacat sendiri. Hal ini terjadi karena adanya berbagai kendala yang kita hadapi. Kendala utama yang sering kita hadapi adalah sikap sebagian besar masyarakat kita yang belum sepenuhnya mendukung dan memberikan kesempatan yang sama pada penyandang cacat, hal ini ditambah lagi oleh ketidaktahuan masyarakat, orangtua dan keluarga dalam menghadapi dan memahami tentang kecacatan itu sendiri.
Di Indonesia dewasa ini populasi penyandang cacat secara kuantitas cenderung meningkat dan diperkirakan akan terus meningkat karena berbagai sebab seperti, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan di pabrik(tempat kerja), efek samping dari obatan-obatan, gizi yang buruk, gaya hidup dan sebagainya. Berbagai permasalahan yang ada, seperti kurangnya perhatian masyarakat terhadap pelayanan dan rehabilitasi penyandang cacat, terbatasnya fasilitas untuk tempat pelayanan dan rehabilitasi, terbatasnya tenaga professional pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang cacat dan rendahnya pendidikan dan ekonomi, masih dirasakan oleh sebagian besar penyandang cacat.



B.     TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk memperoleh keseragaman pola pikir dan keterpaduan pelaksanaan tugas dalam penanganan pelayanan  rehabilitasi social bagi penyandang cacat
2.      Supaya mahasiswa dapat mengindentifikasi ciri-ciri penyandang cacat baik fisik maupun non fisik
3.      Agar  mahasiswa mampu menetapkan langkah-langkah yang tepat dalam memberikan pelayanan/rehabilitasi bagi para penyandang cacat tubuh.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penyandang Cacat
1.      Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik/mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya melakukan  kegiatan secara selayaknya.
Menurut WHO tahun 1980 membagi pengertian penyandang cacat dalam 3 hal, yaitu :
a.       Impairment :  diartikan sebagai suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik psikologis, fisiologis maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis.
b.      Disability  : suatu ketidakmampuan melaksanakan suatu aktivitas/kegiatan tertentu sebagaimana layaknya orang normal yang disebabkan oleh kondisi impairment yang berhubungan dengan usia dan masyarakat dimana seseorang berada.
c.       Handicap : kesulitan/kesukaran dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat baik dibidang social ekonomi maupun psikologi yang dialami oleh seseorang yang
disebabkan oleh ketidakabnormalan psikis, fisiologis maupun tubuh dan ketidak mampuannya melaksanakan kegiatan hidup  secra normal.
            Singkatnya Impairment mencakup dimensi fisik, Disability mencakup dimensi aktivitas personal dalam aktivitas sehari-hari (ADL) sedangkan Handicap mencakup dimensi peranan social.
            Menurut Syech (1933)
            Penyandang cacat tubuh adalah keadaan yang terjadi sebagai akibat lanjut proses penyakit yang mengakibatkan kerusakan jasmani atau rohani yang tidak reversible dan dalam hal ini terdapat suatu kelainan fungsi dari alat-alat yang bersangkutan.


B.     Penyebab Kecacatan
Dalam garis besar, sebab timbulnya cacat tubuh dapat disebabkan :
1.      Kecacatan akibat kecelakaan
a.       Peperangan
b.      Kecelakaan kerja
c.       Kecelakaan lalu lintas
d.      Kecelakaan lain seperti : kecelakaan di rumah tangga
2.      Cacat sejak lahir atau ketika dalam kandungan
3.      Cacat yang disebabkan oleh penyakit
a.       Penyakit folio
b.      Penyakit kelamin
c.       Penyakit TBC
d.      Cerebral Palsy
e.       Penyakit lepra/kusta
f.       Diabetes Mellitus
g.      Darah tinggi
4.      Kecacatan karena malnutrisi dan keracunan makanan dan minuman
5.      Kecacatan karena alcoholism khronis dan penyalahgunaan narkotika
6.      Kecacatan disebabkan oleh populasi dan pencemaran lingkungan serta bencana alam

C.    Karakteristik Kecacatan
1.      Aspek fisik
a.       Hambatan untuk melakukan suatu aktivitas sehari-hari
b.      Terbatasnya untuk melakukan kegiatan fisik
c.       Ketidakabnormalan bentuk fisik
2.      Aspek psikis, meskipun tidak selalu mereka cenderung :
a.       Kurang percaya diri
b.      Mengisoslir diri
c.       Agresif
d.      Pesimistis
e.       Masa bodoh
f.       Malu bergaul
g.      Cepat putus asa
h.      Mudah tersinggung
i.        Mudah marah
3.      Aspek sosial
a.       Kemampuan bergaul terbatas
b.      Relasi social cenderung inklusif/tertutup
c.       Integrasi social cenderung menunggu
4.      Aspek Vokasional
Kesempatan kerja menjadi terbatas

D.    Jenis Kecacatan
Pada dasarnya ada 2 penyebab kecacatan yaitu kecacatan yang terjadi sejak lahir ataupun bawaan, tetapi ada juga kecacatan yang diakibatkan oleh kecelakaan baik itu kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas.
Namun demikian dari hasil seminar nasional Pengembangan Pendidikan Luar Biasa dan menurut Frieda Mangunsong dkk (1998) secara umum klasifikasi atau jenis kecacatan dapat dibagi atas :
1.      Penyandang Cacat tubuh yang tergolong bagian D (SLB D) ialah seseorang yang menderita cacat folio atau lainnya, sehingga mengalami ketidaknormalan dalam fungsi tulang, otot-otot atau koordinasi fungsi otot-otot. Akan tetapi pada umumnya mereka mempunyai kemampuan kecerdasan normal.
2.      Penyandang Cacat tubuh yang tergolong bagian D1 (SLB D1) ialah seseorang yang menderita cacat semenjak lahir akibat kerusakan otak seperti penderita cerebral palsy yang mengakibatkan tidak berfungsinya tulang, otot, sendi dan syaraf-syaraf sehingga terjadi kelumpuhan, kekauan dan kurangnya koordinasi motorik.
Namun demikian secara umum derajat kecacatan badi penyandang cacat tubuh dibedakan menjadi :
a.       Cacat tubuh ringan
b.      Cacat tubuh sedang
c.       Cacat tubuh berat

E.     Dampak Kecacatan
Akibat dari kurang berfungsinya salah satu anggota gerak tubuh seseorang, dapat menimbulkan berbagai masalah yang terjadi pada penyandang cacat tubuh tersebut yaitu :
1.      Bagi Penyandang Cacat
a.       Masalah fisik
Kecacatan yang diderita seseorang dapat mengakibatkan gangguan kemampuan fisik untuk melakukan sesuatu perbuatan atau gerak tertentu yang berhubungan dengan kegiatan hidup sehari-hari.
b.      Menyangkut Psikologis
Akibat kecacatan dapat mengganggu kejiwaan/mental seseorang, sehingga seseorang menjadi rendah diri atau sebaliknya menghargai dirinya terlalu berlebihan, mudah tersingung, kadang-kadang agresif, pesimistis, labil, sulit untuk mengambil keputusan dan sebagainya.
c.       Masalah Sosial Ekonomi
Masalah social ekonomi tergambar dengan adanya kehidupan penyandang cacat tubuh yang pada umumnya berada dibawah garis kemiskinan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pendapatan.
d.      Masalah Pendidikan
Karena kecacatan fisiknya, hal ini sering menimbulkan kesulitan khususnya anak umur sekolah. Mereka memerlukan perhatian khusus baik dari orangtua maupun guru disekolah. Sebagian besar kesulitan ini juga menyangkut transportasi antara tempat tinggal kesekolah, serta kesulitan mempergunakan alat-alat sekolah.
e.       Masalah Vokasional
Kecacatan yang diderita seseorang dapat mengakibatkan gangguan kemampuan fisik untuk melakukan sesuatu seperti keterampilan tertentu, karena mereka kehilangan satu atau lebih anggota badannya, sehingga mengganggu aktivitasnya.
2.    Masalah Keluarga
Keluarga yang mempunyai anak cacat tubuh, sebagian ayah dan ibunya ada yang merasa malu, akibat anaknya tidak dimasukkan sekolah, tidak boleh bergaul. Kasih saying yang seperti diharapkan oleh anak-anak pada umumnya tidak diperoleh, sehingga anak tersebut tidak dapat berkembang kemampuan dan kepribadiannya. Seringkali keluarga mengganggap memiliki anak cacat sebai beban.
3.      Masalah Masyarakat
Masyarakat yang memiliki warga yang menderita cacat tubuh akat turut terganggu kehidupannya, selama penyandang cacatbelum dapat berdiri sendiri dan selalu menggantungkan dirinya pada orang lain.

F.   Aplikasi dari Teori Pekerjaan Sosial terhadap masalah yang ada
a.       Studi Kasus
Ada Seorang klien cacat tubuh yang berinisial SR mengalami goncangan kejiwaan karena perlakuan keluarga dan lingkungan sekitarnya tidak selayaknya dia terima. Sedangkan cacat tubuh yang dialami SR ini yaitu karena bawaan dari lahir. Sejak lahir SR tidak mempunyai kedua kakinya,dia hanya berjalan dengan cara mengesotkan tubuhnya. Didalam keluarganya hanya SR saja yang cacat,sedangkan kakak dan adiknya sehat-sehat saja. Dikeluarganya SR tidak dihargai sama sekali,jika keluarganya bepergian SR pasti tidak diajak,dia seakan-akan tidak dianggap oleh keluarganya.Dilingkungan tempat tinggalnya pun dia kerap kali diejek dan tidak sedikit pula yang merasa takut saat melihatnya.

Jika kita lihat dari kasus yang dialami klien diatas bahwa menunjukkan bahwa klien ini dalam keadaan depresi berat dimana dia ingin sekali beraktivitas seperti orang normal tetapi dia tidak tahu harus memulai dari mana, dia ingin juga merasakan bermain bersama saudara-saudaranya dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Dia ingin diperhatikan dan juga ingin menggali bakat yang dia miliki.


Adapun Pekerja sosial disini dalam menangani masalah klien diatas yaitu menerapkan model inetrvensi krisis dan praktek pada tugas dalam menyelesaikan masalah yang dialami oleh SR ini.
Keunggulan dari intervensi krisis adalah menghentikan gangguan keberfungsian masyakarat yang normal, sedangkan praktek berpusat tugas difokuskan pada menetapkan kategori-kategori dari masalah yang ada.
Krisis intervention dalam prakteknya membantu klien dalam penyesuaian diri tetapi fokus terpentingnya adalah soal pengontrolan emosi bila menghadapi masalah sekaligus untuk menguatkannya bila muncul masalah dimasa yang akan datang. Dengan melakukan intervensi krisis  klien lebih bisa menerima keadaannya, sehingga klien tidak merasa terpinggirkan oleh orang yang normal dan dapat mengembangkan bakat yang dimilikinya tanpa tekanan psikologis dari pihak manapun.
Menurut Reid dan Epstein, pendekatan ini berasumsi bahwa : klien mengakui dan menerima, bisa tertangani bila ada kerjasama, bisa didefinisikan secara jelas, dari rasa ketidakpuasan klien dengan lingkungan sekitar serta adanya keinginanuntuk berubah.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Penyandang cacat bukanlah manusia asing atau alien yang harus kita takuti dan mereka hidup bukan untuk dihina maupun dimaki, tetapi mereka juga ingin hidup seperti manusia normal lainnya. Mereka ingin berkarya dan menampilkan kreativitas-kreativitasnya. Idealnya mereka juga tidak mengharapkan ada suatu kecacatan apapun dalam diri mereka. Maka dari itu mereka sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik itu keluarga,masyarakat atau pun lingkungan sekitarnya agar mereka mempunyai keberanian untuk eksis seperti orang lain.
Penyandang cacat juga ingin mencapai taraf kesejahteraan social yang baik, dimana mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain. Mereka menjadi tauladan bagi orang-orang yang normal dengan segala kekurangannya tapi mereka mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. Meraka ingin menjadi motivator yang handal dimana mereka mampu untuk memberi semangat kepada orang lain agar tidak mudah untuk berputus asa dalam menjalani kehidupan yang pada dasarnya sangat sederhana ini.

0 komentar:

Poskan Komentar